Ingat Sumpah Pemuda, Ingat Supratman
Sukron Abdilah
Rabu, Oktober 28, 2020, 15:10 WIB
Last Updated 2020-10-28T08:10:19Z
Kolom

Ingat Sumpah Pemuda, Ingat Supratman

Advertisement


By: Kelik NW

Setiap minggu pagi, sambil lari kecil dari Cidurian ke Hebe (Gasibu), saya mesti melewatinya. Menjelang matahari bersinar, kesejukan Bandung sangat terasa di sepanjang jalan ini. Rimbun dedaunan.

Pokok pohon besar-besar, sebagian terpaku cermin tukang cukur. Dari semenjak perempatan Jalan Ahmad Yani hingga menjelang Jalan Diponegoro, minggu pagi di Bandung 1980-an, kenangan tak terlupakan.

Setiap jam 06.00 di Minggu pagi, lonceng gereja berdentang lantang. Terus ke utara, sebagian teman memutuskan bermain sepakbola di lapang Ciujung, depan SMP 14. Disebrangnya markas Infantri TNI tak kalah gagah. Rumputnya terpotong rapi. Mungkin setinggi satu sentimeter juga.

Persis di pertigaan Jalan Katamso, berdiri Kantor Telkom divre Bandung, tempat orang kaya waktu itu daftar no telepon rumah. Milea, di novel Dilan, termasuk orang kaya yang punya telepon rumah.

Di depannya berjejer telepon umum koin. Ada kawan saya yang punya trik menelpon lama di telepon umum hanya dengan satu koin. Dia nggak mau berbagi trik ini.

Sedikit ke utara ada apotek kimia farma. Di sepanjang rute ini banyak berjejer hotel. Baik besar atau kecil. Tapi, tingginya tak melampaui tinggi Gedung Sate. Dipenghujung jalan kini megah berdiri Pusat Dakwah Islam (Pusdai).

Jalan ini mengenangkan. Nama tokoh yang diabadikan menjadi nama jalan ini kerap dipanggil kenek Damri saat melewati perempatan Ahmad Yani.

"Supratman, Supratman," teriak kenek lantang.

Tanda penumpang Damri dari barat atau timur yang mau turun di perempatan ini segera bersiap.

Ya, Jalan WR. Supratman. Salah satu jalan ikonik di Bandung. Lurus dengan pusat pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate. Jalannya selalu mulus. Aspalnya nggak pernah bolong-bolong. Bila menjelang musim penghujan.

Dedaunan warna warni berguguran menutup aspal. Jalan yang kiri kanannya berjejer bangunan arsitektur Belanda. Heritage kota kembang.

Namun, kini jalan ini dipotong jembatan. Jembatan kendaraan dari jalan Jakarta ke Jalan Supratman. Bahkan ada rencana jalan tol dalam kota akan melewati Jalan Supratman. Bila ini terjadi, maka bayangan rimbunnya pepohonan menuju Gedung Sate bisa sirna.

Tapi semoga saja jalan itu melayang di atas pepohonan. Jangan sampai memangkas banyak pohon seperti saat pelebaran jalan KHH Mustafa. Jalan Surapati - Cicaheum (Suci) pernah rimbun. Tetapi demi pelebaran jalan, pohon-pohon sepanjang jalan ini ditebang.

Supratman tetap akan dipanggil kenek Damri. Namanya dikenang bukan sekedar sebagai pemuda yang menggesek biola dengan Lagu Indonesia Raya di kongres Pemuda.

Setidaknya, bila anak-anak nanti melewati Jalan Supratman, ingat yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia. Ingat sumpah pemuda, ingat Jalan Supratman. Selamat Hari Sumpah Pemuda.

X
X