Resensi Buku: Gilad Atzmon, Yahudi yang Anti-Zionisme
Sukron Abdilah
Sabtu, Maret 13, 2021, 21:20 WIB
Last Updated 2021-08-29T14:40:55Z
AgamaLiterasi

Resensi Buku: Gilad Atzmon, Yahudi yang Anti-Zionisme

Advertisement


Internet ternyata berdampak pada kehidupan seorang pemikir Indonesia, Buya Syafii Maarif. Pandangan atas pelanggaran kemanusiaan di negara Palestina — yang kerap mengambinghitamkan Yahudi — berubah tatkala terjadi komunikasi interaktif memanfaatkan jaringan internet. Tidak semua Yahudi di Israel menyetujui pendudukan negeri Palestina. Salah satunya, ialah seniman, musisi dan penulis, Gilad Atzmon.

Perkenalan dan pertukaran gagasan antara Ahmad Syafii Maarif dengan Gilad Atzmon menggunakan internet terjadi pada pertengahan tahun 2011. Seperti diakui Buya dalam buku ini, bahwa internet telah memberikan manfaat begitu besar bagi kemanusiaan. Tepatnya Mei 2011, ia sering berinteraksi dengan Gilad Atzmon untuk membicarakan tentang konsep dan gagasannya ikhwal pembelaan atas nama kemanusiaan universal. Buya merasa tertarik dengan ketegasan Gilad — seorang Yahudi — terhadap kebijakan politik Israel yang mengusir warga Palestina dari negeri mereka.

Dengan tekanan yang keras, Gilad mengatakan bahwa, “Sebagai sebuah gerakan fundamentalis, Zionisme secara kategoris tidak berbeda dengan Nazisme. Hanya bila kita memahami Zionisme dalam konteks nasionalis dan rasisnya, baru kita mulai mengerti betapa dalamnya kekejaman dan kengerian yang diakibatkannya”. Bangsa Yahudi yang menganut ideologi keyahudian di dalam Zionisme memahami bahwa mereka adalah manusia terpilih. Ketika ada kritik terhadap Israel dan kepongahan mereka, langsung saja ada cap “anti-semitisme”, yang berarti anti-Yahudi. Inilah bentuk dari kepalsuan penuh fitnah. (hal. 69).

Buku yang ditulis Ahmad Syafii Maarif (ASM) ini merupakan penemuan berharga bagi humanisme transendental yang dipegang teguhnya selama bertahun-tahun. Buya ASM tentunya menolak segala bentuk pelanggaran kemanusiaan yang dilegitimasi doktrin keagamaan. Selama ini gerakan Zionisme dicurigai sebagai wujud dari doktrin Agama Yahudi; padahal tidaklah demikian. Gilad Atzmon (GA) membuktikan bahwa Zionisme sangat bertentangan dengan konsep Yahudi sebagai Agama.

GA membedakan Yahudi sebagai orang Yahudi/Jews, Judaisme/Yudaisme sebagai Agama dengan Jewishness/Keyahudian sebagai sebuah ideologi. Yang diperangi GA ialah Yahudi sebagai sebuah ideologi yang menempatkan mereka sebagai ras super “manusia terpilih”, sehingga berdampak pada pandangan-pandangan fasis dan rasis kepada bangsa lain (hal. 77). Tak heran dengan gagasan-gagasan GA yang menyerang Israel karena telah mengeksploitasi sumber keagamaan Yahudi ke dalam gerakan Zionistis, menyebabkan GA dijuluki seorang Yahudi anti-semit. Bahkan, ia kerap disebut sebagai orang Yahudi yang tidak mendukung perwujudan Israel sebagai tanah yang dijanjikan (zion).

Perkenalan ASM dengan Gilad Atzmon (GA) membuktikan bahwa memukul rata semua orang Yahudi mendukung negara Israel, terbukti meleset. Orang Yahudi yang kerap disalahkan dalam pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di Palestina juga ternyata kini mulai bermetamorfosa ke arah sikap-sikap “kemanusiaan universal”, kendati dianut segelintir orang saja. Catatan-catatan Buya ASM tentang sosok GA di dalam buku ini memang dapat membuka mata hati kita untuk meninggalkan doktrin kekerasan atas nama Agama, yang kerap dilakukan oleh Yahudi di Israel. GA menjadi salah satu dari segelintir warga Yahudi yang menentang pemusnahan Palestina. Dengan sangat berani melalui gerakan musik Jazz-nya dan tulisannya ia menyuarakan pembelaannya terhadap Palestina. Pemikirannya tentang kebiadaban Zionisme bisa diakses di situs personalnya, www.gilad.co.uk dan pada 2011 ia meluncurkan buku The Wandering Who? A Study of Jewish Identity Politics (Zero Books, 2011). Buku ini merupakan wujud dari ketidaksetujuannya atas konsep politik identitas negara yahudi yang kini dikenal dengan Israel.

GA adalah seorang aktivis kemanusiaan, juga aktris-musisi, penulis, dan pembela kesetaraan umat manusia. Ia merupakan bangsa Israel yang sadar bahwa ajegnya negara Israel merupakan hasil dari pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan. Tanpa merasa malu dan ragu, ia mengakui bahwa bangsa Israel dan saudara-saudaranya yang menganut Zionisme telah ikut andil melakukan pembantaian kepada warga etnik Arab di Palestina. Kepindahan GA dari Israel ke London, Inggris juga diinisiasi ketidaksukaannya terhadap kekerasan tak manusiawi yang dilakukan tentara-tentara Israel. Kendati dirinya merupakan seorang lulusan angkata udara Israel, namun setiap kali akan ditugaskan ke medan perang, ia selalu berusaha mencari alasan untuk tidak mengikutinya. Benih-benih rasa kemanusiaan yang tertanam di dalam dirinya diakui GA sebagai efek samping dari kesukaannya terhadap suara saxofon yang menenangkan batin.

Buya Syafii, yang juga seorang Guru Besar Sejarah berhasil mengangkat sedikit catatan historiknya tentang awal mula imigrasi bangsa Yahudi ke negeri Palestina, hingga pembersihan warga Arab dari tanah Palestina, yang telah dihuni oleh mereka selama ribuan tahun. Dengan analisis historis inilah pembaca dapat menyimpulkan siapa yang bersalah atas perselisihan Israel-Palestina ini. Tidak semua orang Yahudi mendukung konsep Negara Yahudi yang dibungkus dengan nama “Israel”, yang menurut GA diwujudkan melalui serangkaian pencurian tanah yang telah dihuni ribuan tahun oleh bangsa Palestina.

Di tengah konflik ini juga kita dapat melihat siapa yang pencuri tanah Palestina melalui pengakuan seorang Yahudi bernama Gilad Atzmon. Buku ini diharapkan dapat mengubah persepsi kita tentang Yahudi sebagai orang, Yahudi sebagai Agama, dan Yahudi sebagai Bangsa-Negara. Sehingga dengan demikian kita dapat memahami bahwa sebetulnya doktrin Agama Yahudi juga tidak mengajarkan umatnya untuk memiliki ketunaan moralitas dengan melanggar garis-garis kemanusiaan di dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Konsep Yahudi sebagai agama yang melegitimasi kekerasan Israel di Palestina ternyata mesti dikaji ulang; apakah benar bahwa secara doktrinal teks-teks suci umat Yahudi memberikan perintah ekspansi dan menumpurludeskan Palestina? Yang jelas, antara ASM dengan GA memiliki semangat yang sama: semangat kemanusiaan transendental sama-sama memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan umat manusia dari segala bentuk penindasan.
Judul         : Gilad Atzmon; Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme
Penulis      : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit     : Mizan & Maarif Institute, Bandung
Tahun        : Februari, 2012
Tebal         : 147 Halaman
Harga        : Rp 35. 000
X
X