Kisah Long Distance Marriage dan Risiko Yang Harus Diterima

Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Long Distance Marriage dan Risiko Yang Harus Diterima

Selasa, 13 Juli 2021 | 15:37 WIB Last Updated 2021-07-13T08:37:20Z

Penulis Nurul Fitri, ibu dua anak

seindah-indahnya tinggal di rumah orangtua, tetap lebih nikmat tinggal bersama satu keluarga utuh meskipun masih mengontrak


Sebelum putri kedua lahir, saya dan suami memang bersepakat, nanti begitu anak kedua brojol akan menetap sementara di rumah orangtua saya di Sukabumi. Pertimbangannya, selain khawatir terjadi kerepotan mengurus newborn dan satu bocil, saya juga sedang melanjutkan kuliah lagi.

Saya sudah membayangkan repotnya akan seperti apa mengurus dua anak. Bisa sedramatis drama Korea, misalnya pada pagi hari. Belum lagi harus berjibaku dengan tugas-tugas kuliah. Ya sudah, diputuskanlah saya dan anak-anak 'mengungsi' sementara di kaki Gunung Gede Pangrango, dan suami tetap di Bandung.

Ya, kami Long Distance Marriage (LDM) kembali untuk 3 bulan setelah sebelumnya atau 3 tahun lalu, kami pernah pula LDM selama 3 bulan, tepatnya setelah kami menikah sampai akhir semester. Maklum, saya bekerja sebagai guru. Bedanya, LDM kali ini saya sudah punya anak.

Tak terasa sudah sebulan lebih saya dan kedua bocil berada di rumah mamah, yang kalau malam dinginnya minta ampun. Selama itu pula saya rindu Bandung. Tentang segala hal di sana. Hiruk pikuk kotanya, kesibukan saya di sekolah, bahkan kangen suara ayam setiap subuh dan tetesan air dari sudut kamar kontrakan kami.

Maklum, kami masih jadi kontraktor dan 'donatur' tetap setiap bulan ke pemilik kontrakan. Ternyata satu bulan cukup membuat saya tersadar: seindah-indahnya tinggal di rumah orangtua, tetap lebih nikmat tinggal bersama satu keluarga utuh meskipun masih mengontrak.

Belum lagi suami harus bolak-balik Bandung-Sukabumi seminggu atau dua minggu sekali. Itu lumayan menguras energi dan uang. Hahaha. Bagi saya dan suami hal tersebut harus dilakukan, karena anak-anak berhak berinteraksi sekaligus bermain dengan ayahnya. Bounding itu sangat penting, loh, Mom and Dad.

Selain itu, dalam masa LDM, kami harus mengatur keuangan dengan lebih jeli. Kenapa? Bukankah tidak LDM pun memang kudu begitu? Ya, karena jadi terdapat 'dua dapur': bekal suami dan saya sendiri.

Memang saya tinggal di rumah orangtua, tapi tetap saya juga mesti bantu untuk kebutuhan dapurnya. Masa enggak nyumbang samsek? Ya, hitung-hitung mereka sudah kami repotkan dengan dua cucunya. Bukan maksud pelit sampai saya bahas dua dapur segala, tapi tetap harus jadi pertimbangan dalam pengeluaran uang.

Setiap pilihan selalu ada risiko. Saya memilih ingin lebih mudah mengurus dua anak dengan meminta bantuan keluarga selama cuti. Artinya, segala risiko harus siap juga diterima. Nah, bagaimana denganmu? Sudahkah ambil risiko?

Ada satu hal yang membuat saya bersyukur di balik risiko itu. Ternyata saya dapat keluar rumah untuk me time, walaupun pada akhirnya us time dengan suami dan anak yang pertama, si bayi mah dititipkan dulu ke mamah.

Paling tidak, us time tersebut cukup menjaga kewarasan sebagai seorang ibu. Kalau di Bandung belum terbayang bisa jalan-jalan keluar rumah atau enggak, apalagi di masa pandemi, yang entah kapan berakhir.

Dan LDM akan segera usai. Saya dan dua putri akan kembali ke Bandung, yang selalu kami nantikan pesonanya itu. "Ayah, terima kami kembali, ya. Ayah pasti rindu masakanku, juga rindu ...."