Mendapatkan Predikat Manusia Bijaksana
Sukron Abdilah
Rabu, April 14, 2021, 07:10 WIB
Last Updated 2021-09-05T10:01:10Z
Kebudayaan

Mendapatkan Predikat Manusia Bijaksana

Advertisement

Suatu hari, ada seorang sahabat Nasruddin Affandi bertanya sok filosofis kepada Nasrudin Khoja,"Coba pikir mengapa orang-orang tak henti-hentinya pergi ke segala penjuru dunia (dengan jalan yang berbeda-beda -- Pen) begitu fajar tiba?". "Tapi.., coba bayangkan", kata si Kabayan Timur Tengah ini, "Jika semua orang pergi hanya ke satu jurusan. Tidakkah bumi ini akan berat sebelah dan terpantul dari peredaran?" 

Begitu linier pemikiran Nasrudin ketika ia menyikapi dan menjawab pertanyaan sahabatnya. Ucapan filosofis dibalas dengan jawaban filosofis juga. Ia seolah mengajak seluruh manusia untuk menjadi seorang manusia yang beradab dan berkebijaksanaan tinggi. 

Menjadi manusia beradab memang sulit-sulit tidak gampang. Apalagi bagi bangsa kita yang plural dan multikultural. Mengapa? Sebab manusia beradab harus punya segudang kebijaksanaan ketika berada pada lingkungan yang penuh diversitas. 

Ia harus membijaki perbedaan pendapat, pemahaman, budaya, ideologi, dan bahkan agama.

Orang yang bijaksana tidak akan memaksakan kehendaknya untuk dianut orang lain. Ia, tentunya, akan membiarkan perbedaan berkembang laiknya jamur di musim penghujan. Saking Mahabijaksananya Tuhan, kan, Dia tidak memaksakan ajaran agama (Islam) kepada penganut agama lain. 

"Laa iqraha fi al-din", tak ada paksaan (buat makhluk-Ku) dalam beragama.

Namun, karena manusia adalah makhluk yang sedang berproses menjadi beradab dan bijaksana, kadangkala tergoda untuk memaksakan anutan budaya, politik, agama, dan ideologinya kepada orang banyak secara rigid dan kaku. 

Pada posisi demikian, moment penghargaan budaya, umpamanya, seringkali diberikan dengan bias etnosentris kepada budaya lain yang berkembang didaerahnya. Para petinggi pun tak mau kalah. Mereka melegitimasi pemberian hadiah penghargaan itu menurut kacamata sukunya sendiri.

Kasus pemberian anugerah kebudayaan di Jawa Barat, misalnya, banyak diberikan kepada orang Sunda. Sementara itu, wong Cirebon atau wong Dermayu atau juga anak Betawi, apalagi etnik China tak banyak mengecap penghargaan. 

Padahal, kebudayan itu adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan untuk dikonsumsi oleh orang lain yang memiliki alam pikir dan alam hidup yang berbeda dengannya.

Oleh karena itu, kita baru sebatas mampu berbijak kepada diri sendiri. Kepada tradisi lokal sendiri, kepada penganut agama sendiri, kepada pemegang ideologi yang sama dengan dirinya sendiri, dan segala sesuatu yang menggambarkan diri sendiri. 

Istilahnya, bijak"sini" bukan bijak"sana". Mengapa? Karena untuk menjadi manusia yang bijak kepada orang diluar diri kita, membutuhkan keberadaban laku-kata dan pikir.

Manusia seperti ini dalam khazanah ajaran Islam, seringkali disebut dengan kaum arifin, yakni mengacu kepada orang-orang yang berwawasan luas. Seluas samudera. Maka, untuk menjadi manusia yang berkebijaksanaan tinggi, kita harus arif-beradab-dan bijaksana. 

Kalau kita tidak mampu menghargai sesuatu epistemologis di luar pemahaman diri sendiri, secara eksistensial kita tidak patut disebut sebagai manusia berkebijaksanaan.

Manusia yang bijaksana adalah manusia yang bisa men-tajalli-kan sifat-sifat mulia dan lembut dari Tuhan. Ketika Tuhan menjadi rahmat untuk alam semesta, kehadirannya di muka bumi juga menjadi rahmat bagi alam sekitar. 

Itulah manusia yang dipoles dengan kebijaksanaan. Ia berbeda dengan manusia yang hanya dipelitur oleh kebijaksinian. Model manusia narsis adalah alamt yang cocok disematkan buat manusia yang berbijak pada diri sendiri, sedangkan pada manusia di luar diri dan komunitasnya, ia nyarekan lak-lak dasar.
X
X