3 Alasan Kenapa Makan-makan Setelah Gelar Acara
Sabtu, Juni 19, 2021, 16:53 WIB
Last Updated 2021-08-29T14:51:26Z
Kebudayaan

3 Alasan Kenapa Makan-makan Setelah Gelar Acara

Advertisement


Penulis
Asep Dudinov AR

Pada suatu hari, di masa orde baru. Dengan mobil sewaan kami sekeluarga melaju menuju Cipadung, Bandung, tempat IAIN Sunan Gunung Djati berada.

Hari berbahagia itu bapak diwisuda sebagai sarjana Fakultas Syariah jurusan Peradilan Agama, setelah kurang lebih dua tahun mengikuti kelas karyawan.

Lepas prosesi wisuda, dengan riang kami bergegas menuju Tangkuban Perahu dan Ciater. Bertamasya. Hari menyenangkan itu kemudian dipungkas dengan ritus yang sudah tak asing lagi: makan-makan.

Tikar segera digelar dan misting wadah makanan dihamparkan. Menunya khas kelas menengah bagian bawah, yang biasanya jarang disajikan dalam keseharian: ayam goreng dan telur mata sapi. Ketika bocah, menyantap kuning telur di bagian akhir makan adalah jalan ninja.

Kali lain, ketika seorang kolega naik pangkat atau menduduki jabatan baru, selalu disusul dengan acara makan-makan. Bisa tumpengan, prasmanan, atau sengaja menuju tempat makan yang telah ditentukan. Siapa yang akan membayar? Biasanya seseorang yang dipanggil "Bos" di acara itu. Begitulah konsekuensinya. Hehehe.

Makan-makan bagi orang Indonesia sepertinya ritual yang tak terelakkan. Hal yang sebenarnya mubah, tetapi menjadi sesuatu yang mesti ada. Ia telah menjadi kultur, yang jika tak dilakukan, akan terasa kurang.

Dari mulai syukuran kelahiran, ulang tahun, naik kelas, lulus kuliah, wisuda sarjana, diterima kerja, pernikahan, rumah baru, jabatan baru, arisan, reuni, rapat, pergi dan pulang haji, dan yang semacamnya. Semuanya akan berakhir dengan makan-makan.

Tak heran, di setiap acara apa pun selalu ada seksi konsumsi yang memastikan ketersediaan logistik. Adagiumnya: Logika tanpa logistik mestilah berujung ambyar!

Provokasi mengadakan makan-makan makin kencang manakala saat ini orang-orang mudah sekali menjangkau warung makan, restoran, dan atau layanan pesan makanan secara daring. Ramainya jurnalisme kuliner akhir-akhir ini merupakan fakta yang tak bisa dibantah.

Mendiang Bondan Winarno adalah pionirnya ketika belasan tahun silam mengampu wisata kuliner di sebuah televisi swasta. Ia mempopulerkan tagline "Maknyus" yang dipinjam dari Umar Kayam sebagai level tertinggi dari cita rasa makanan yang dicicipinya.
 
Nah, kenapa orang Indonesia, kalau ada acara berakhir dengan makan-makan? Ada tiga alasan yang menyebabkan warga nusantara sering menghelat pelbagai macam syukuran yang berakhir makan-makan:

Pertama, mempererat rasa persaudaraan.


Kalau kita tengok mereka yang terlibat dalam acara makan-makan, lumrahnya adalah mereka yang saling mengenal atau minimal tergabung dalam komunitas yang sama. Dengan makan-makan, setidak-tidaknya silaturahmi yang jarang atau komunikasi yang tersendat selama ini bisa dirajut kembali.

Kedua, sebagai syukuran tanda pencapaian.


Apa pun pencapaian yang baik dan apalagi membanggakan layak dirayakan. Barangkali perwujudan dari hablum minannaas. Pas wisuda, selesai lamaran, ulang tahun, naik pangkat, dan acara kegembiraan lainnya.

Ketiga, berbagi kebahagiaan.


Konon kebahagiaan itu menular. Karena menular, maka kebahagiaan itu mesti dibagi, tak boleh dipendam sendiri. Dan makan-makan adalah bentuk dari membagi kebahagiaan.

Itulah tiga alasan orang Indonesia hobi banget mengadakan acara makan-makan. Ada yang mau menambahkan alasan lainnya? Silakan, ya. Ditunggu tulisannya.

Jadi, mau makan-makan di mana kita?
X
X