Api Sejarah Keislaman dan Keindonesiaan

Notification

×

Iklan

Iklan

Api Sejarah Keislaman dan Keindonesiaan

Sabtu, 26 Juni 2021 | 13:39 WIB Last Updated 2021-06-26T06:39:16Z

Penulis Rafi Tajdidul Haq, Intelektual Penyuka Api Unggun

Sejak membaca buku "Islam dan Tranformasi Masyarakat" karya Moeflich Hasbullah, seorang doktoral dalam bidang sejarah peradaban Islam, saya mendapat banyak suntikan informasi yang begitu penting dalam masa silam sejarah Islam dan Indonesia.

Bila ingin sedikit mengetahui keislaman dan keindonesiaan, kiranya teman-teman perlu membaca dulu buku tersebut yang insyaAllah akan membuka mata kita hari ini.

Kedatangan Islam ke Indonesia, tulis Moeflich, seperti membunyikan "lonceng kematian" untuk berbagai hal yang dulu pernah dibawa bangsa India baik agama, budaya dll. Kepulauan nusantara yang telah mengalami "Indianisasi" selama berabad-abad berubah dengan datangnya Islam, dan saat itu pula terjadilah proses islamisasi Indonesia yang hingga kini terus berlangsung.

Sebelum periode kemerdekaan, ada tiga kekuatan besar yang berhasil meletakkan pengaruhnya di Nusantara dan berhasil pula menghujamkan kekuatannya masing-masing. Politik berhasil direbut oleh Eropa (Barat) melalui kolonialisasi dan imperialisasi, ekonomi dikuasai bangsa Tiongkok --mungkin hingga kini-- dan agama direbut oleh Islam.

Kendati Barat memprogramkan Kristenisasi, namun masayarakat Indonesia pada saat itu tidak banyak yang tertarik, mungkin karena mereka melihat "siapa" yang membawanya. Dalam "Api Sejarah Jilid 1", Ahmad Mansur Suryanegara menyebut kesadaran maritim (bahari/kelautan) umat Islam pada masa awal penyebaran Islam sangatlah kuat. Dan hal itu yang membawa Islam bisa tersebar ke Indonesia terutama di daerah-daerah pesisir pantai seperti Aceh, Malaka, Banten, Cirebon, Makassar dll.

Bangsa Indonesia pada saat itu, terutama yang telah memeluk Islam telah menjadi masyarakat kosmopolit yang terkoneksi dengan berbagai peradaban di dunia.

Bagi bangsa Indonesia saat itu, memeluk Islam berarti meninggikan martabat kemanusiaannya, mengingat selama ini mereka dikerangkeng oleh sistem kasta. Menjadi Islam juga menjadi warga internasional, karena bisa menjadi dan berkenalan dengan saudagar yang mendunia.

Selain itu masyarakat Nusantara mengalamai tranformasi menuju kehidupan yang lebih maju --dalam konteks dulu. Tranformasi tersebut bisa dilihat dari : energi penggerak (Doktrin Tauhid, al-Qur'an, Nabi Muhammad Saw) dan produk budaya kini.

Eropa dengan proyek besarnya yaitu kolonialisasi dan imperialisasi berhasil merebut peta politik dan ekonomi (di samping Tiongkok) di jalur-jalur strategis yang dulu dikuasai para pedagang muslim. Namun Eropa tidak berhasil merebut hati masyarakat untuk berpindah keyakinan kecuali hanya sedikit.

Bangsa Indonesia yang sebagian besar telah memeluk Islam menjadikan Islam sebagai "liberating force" dan ideologi perlawanan terhadap bangsa Barat (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris).

Ajaran Islam menjadi Identitas baru bangsa Indonesia sejak abad 7/8 M. Selain ideologi perlawanan, ajaran Islam juga menjadi kebudayaan baru yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

Moeflich menyebutkan bahwa tranformasi masyarakat Indonesia dengan datangnya Islam terbagi ke dalam 4 pola yaitu : Penghilangan (Removals), Penggantian (Replacement), Penggabungan (Aculturation) dan Penciptaan (Creation).

Penghilangan (removals) seperti peniadaan bangunan keagamaan Hindu semisal Candi. Walaupun hingga kini masih tersisa, namun candi zaman dulu diyakini sangat banyak. Di masyarakat Sunda jumlah candi hanya sedikit, karena candi-candi yang ada telah dirobohkan, meniru apa yang dilakukan Nabi pada saat pembebasan Kota Makkah (Futhu Makkah).acana

Penggantian (Replacement) yaitu tradisi-tradisi Hindu digantikan dengan Islam. Karena di dalam ajaran Islam legitimasi kulturalnya yang dalam pelaksanaannya kemudin berubah menjadi murni Islam seperti Tahlilan dan Haulan.

Selanjutnya yaitu penggabungan (aculturation) seperti ajaran Kejawen dan Sunda Wiwitan. Terakhir, penciptaan (creation) seperti kegiatan Maulid Nabi, Idul Fitri, Ibadah Haji, dll.

Selama berabad-abad (Sejak abad 7/8 M) Indonesia yang dulu disebut kepulauan Nusantara telah mendapat sentuhan ajaran Islam oleh para da'i, terutama yang paling kesohor yaitu para Wali/Walisongo.

Sejarah Islam seperti Walisongo banyak dipelintir oleh para orientalis (orang-orang dari Barat yang mempelajari budaya ke-Timur-an) kata Ahmad Mansur Suryanegara. Sehingga yang terdengar Walisongo seperti sebuah dongeng, karena sering terdengar di telinga kita seperti cerita Walisongo bisa terbang, puasa berhari-hari, bisa berjalan di air dll. Padahal mereka merupakan penganut ajaran Islam yang taat.

Bahkan Indonesia lahir dalam keadaan --jika boleh saya bilang-- fitrah (Islam). Begitu banyak pengaruh Islam untuk Indonesia. Sehingga bila kita ingin melihat Keindonesiaan, sebaiknya kita juga melihat Keislaman.