Atep Kurnia: dari Buruh Pabrik Menjadi Penulis!
Sukron Abdilah
Rabu, Juni 16, 2021, 16:31 WIB
Last Updated 2021-08-29T14:51:26Z
Literasi

Atep Kurnia: dari Buruh Pabrik Menjadi Penulis!

Advertisement

Saya dan Kang Atep, menyimpan kenangan intelektual yang abadi tersimpan rapat-rapat. Orang-orang mungkin, tak tahu hal ini. Sebabnya, tema tulisan saya dengan kang Atep, "Jauh Tanah Ka langit" (beda bahasan).

Kang Atep tak lepas dari pengetahuannya tentang kesundaan. Sementara, saya lebih banyak membahas soal-soal keislaman praktis. Itulah yang banyak orang tahu: kang Atep tema-temanya selalu "membumi" sedangkan saya selalu "melangit". Hehehehe

Sewaktu kang Atep menyelesaikan studinya di UIN SGD Bandung, hampir setiap sore saya main ke kamar kontrakannya, yang dipenuhi buku-buku "babon" penuh nilai dan pengetahuan.

Ada kebiasaan unik yang masih saya ingat hingga kini. Setiap kali kang Atep membeli buku "bekas" ia akan bilang, "Cik Ieu Sabaraha, Yi?" tanya sambil memperlihatkan tumpukan buku bekas.

Saya waktu itu menembaknya, "15 rebu kang, nyak!"

"Salah Yi" ujarnya.

"5 rebu" katanya bangga.

Kala itu saya jadi bersimpulan, "semakin murah buku yang dibeli kang Atep, maka itu menunjukkan kebanggaan seperti halnya seorang pendekar memperoleh kitab pusaka." Pokoknya, binar matanya penuh dengan kebahagiaan.

Kini, hampir 5 tahun lamanya saya tak pernah bersua dengan kang Atep.

Lalu untuk melepas kangen terselubung pada kang Atep, akhirnya saya "sercing" menggunakan Google Chrome. Saya ketik namanya, dan tadaa...saya pun disuguhkan link artikel tentang Atep Kurnia di kabarkampus.com.

Transfromasi kedirian


Melansir laman kabarkampus.com, saya paham bahwa ada tranformasi kedirian dari kang Atep ini. Pasca disunting sana-sini, akhirnya artikel tentang Atep Kurnia itu berbentuk begini. Silakan dinikmati, ya...jangan lupa kue kelepon dan kopinya...



Tahun 1998, bagi rakyat Indonesia, menyimpan duka mendalam. Segenap sektor kehidupan terkena krisis besar. Bahkan, nilai tukar rupiah kian terpuruk, pekerjaan semakin sulit, dan kerusuhan terjadi dimana-mana.

Tentunya situasi tersebut bikin Atep Kurnia juga tak nyaman. Namun ditengah ketidaknyamanan itu, ia pantang menyerah.

Waktu itu (1998), Atep Kurnia, baru lulus dari SMUN Cicalengka. Alhamdulillah, lamaran kerjanya diterima PT Filamenindo Lestari Textile, Kabupaten Bandung, sebagai office boy. Juklak juknis pekerjaannya ialah ngepel lantai pabrik, mengumpulkan benang lalu mengangkutnya ke gudang.

Berkat keuletannya, setahun kemudian ia dipromosikan menjadi operator mesin pemintal benang yang gedenya nyaris sebesar rumah. Mesin tersebut menggulung benang bahan tekstil; gulungannya bisa sebesar perut kebo.

Namun, Atep Kurnia, meskipun bekerja di Pabrik Tekstil tidak pernah meninggalkan hobinya; membaca. Ia selalu membawa buku, keliping koran atau majalah untuk bahan bacaan saat senggang atau pada jam istirahat.

Suara gemuruh mesin pemintal dan temaram cahaya di ruangan, tak menghalagi kang Atep untuk membaca. Bising mesin, menggelapnya ruangan dan kadang rasa suntuk tak menghambat proses intelektual tersebut.

“Ada ruangan kecil di sekitar mesin. Kalau mesinnya lancar, saya punya kesempatan 1 hingga 2,5 jam untuk membaca,” tukasnya.

Selama bekerja di pabrik, pria kelahiran Bandung 10 Mei 1979 itu biasa mencari buku bekas di di Kosambi, Cicadas, Palasari, Cihapit dan Dewi Sartika.

Rezim Orde Baru yang tumbang meninggalkan krisis moneter yang melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Situasi sulit itu tak menyurutkan Atep Kurnia menyisihkan uang untuk buku.

Keterhubungan


Rutinitas keterhubungan pun dimulai; ia selalu mengunjungi penerbit buku Kiblat Buku Utama, penerbit khusus buku-buku Sunda. Kesusastraan Sunda menjadi salah satu genre yang ia sukai.

Tak hanya itu, ia mencatatkan diri pernah aktif di klub buku Panglawungan Girimukti yang dibentuk Kiblat Buku Utama. Di klub buku inilah mulai menjalin keakraban dengan Hawe Setiawan.

Sebenarnya sejak SD ia sudah suka membaca, meskipun lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya tak tamat SD. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak, sedangkan saudara-saudara kandungnya cuma tamat SD.

Persentuhannya dengan buku justru dari tetangga. Awalnya tertarik dengan sketsa-sketsa karya Drs Suyadi alias Pak Raden. Di usia SMP, ia mendalami buku Gapura Basa. Masa SMA minatnya pada buku semakin kuat, sehingga lebih sering nongkrong di perpustakaan sekolah untuk membaca karya-karya sastra, misalnya majalah Horison.

Semangat kang Atep harus jadi teladan. Ia mulai rajin mengumpulkan tulisan-tulisan di majalah dan koran serta mengumpulkan buku-buku hasil belanja di tukang buku loak. Aktivitas ini dipandang aneh bagi beberapa orang di lingkungan rumahnya.

Ia sendiri bertanya-tanya, apa manfaat dari sekian lama mengkliping dan membaca buku?

Hawe Setiawan "Master" Menulisnya


Saat itulah Kang Atep mulai memikirkan menulis sesuatu. Hawe Setiawan menjadi salah satu penulis yang esai-esainya kerap ia baca. Ia punya koleksi tulisan dosen Unpad itu yang terbit di rubrik Khazanah Pikiran Rakyat 2001-2002.

Dari artikel yang ditulis Hawe Setawan, ia belajar bikin esai dengan teknik "Copy The Master". Dan, teknik "Mencontek” ini ternyata begitu ampuh. Sedangkan, aktivitasnya di "Klub Buku" tentu saja menambah wawasan dan pengetahuan menulisnya.

Klub ini kemudian menerbitkan Newslatter yang menjadi embrio majalah Sunda, Cupumanik, yang diasuh Hawe Setiawan. Di majalah Sunda tersebut Atep Kurnia sering menyumbangkan tulisan.

Salah satu tulisan yang mengulas karya sastrawan Sunda, Ki Umbara, berhasil mendapat anugerah Lembaga Bahasa jeung Sastra Sunda (LBSS), tahun 2003. LBSS juga menganugerahinya Hadiah I Bidang Esai Tahun 2006.

Sejak 2003, tulisannya banyak dimuat media cetak di Bandung. Kemampuan menulisnya membuat ia meninggalkan pabrik. Antara 2006-2008, ia mantap jadi editor, berpengalaman di bidang pemasaran buku, tak lupa konsisten menulis esai dan puisi.

Balai Bahasa Jabar mencatat, karya puisi Atep Kurnia dimuat dalam antologi Diafan (2009) dan antologi Sajak Sunda (2009). Minatnya pada sastra mendorongnya melanjutkan kuliah.

Pada 2008, ia memulai kuliah S1 Sastra Inggris di Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Suami dari Nurjannah ini menerbitkan buku berjudul, “Jaman Woneng: Wabah Sampar di Priangan, 1925-1937”.

Duh kangen suanten "Yi, Damang?" wkwkwkwk

Mugiya sehat dan bugar kang...sebugar intelektualitasna nyak!

Last but not least, saya, kang Atep Kurnia dan kang Junaedi, pernah dikelompokkan sebagai penulis Sunda muda, Lho.

Itu terjadi sekira tahun 2008-2009, karena saya selalu nulis untuk Kompas Jawa Barat, artikel-artikel bertema kesundaan. Alhamdulillah, kompilasi artikelnya diterbitkan ITB Press dengan judul, "Sunda Cinta, Sunda Harmoni".

Cag! Rampesss...permioss!!!
X
X