Hukum Mencari Ilmu Itu Wajib, Bukan Sunat!

Notification

×

Iklan

Iklan

Hukum Mencari Ilmu Itu Wajib, Bukan Sunat!

Minggu, 20 Juni 2021 | 08:49 WIB Last Updated 2021-06-20T01:49:02Z

Asep Dudinov AR,
Owner @fathanabuku

Perintah Allah SWT pada Rasulullah di awal kenabiannya sudah sangat jelas dan tegas. Iqra! Bacalah. Membaca. Ya, membaca menjadi risalah awal yang mesti disampaikan dan yang terpenting dilaksanakan oleh Muhammad SAW serta umatnya.

Rasulullah tak ingin pengikutnya bodoh, karena kebodohan dekat dengan kefakiran dan kekufuran. Membaca tak hanya melihat apa yang tersurat tapi juga yang tersirat. Tak hanya yang qauliyah tapi juga kauniyah.

Pada konteks yang lebih luas membaca berarti menuntut ilmu, bahkan kalau perlu merantaulah dalam rangka mencari ilmu.

Dalam Islam, begitu mulianya orang-orang yang berilmu. Maka tak heran dalam firman Allah SWT Surat Al-Mujadalah ayat 11 disebutkan bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan beberapa derajat. Sungguh merupakan penghargaan yang tinggi.

Saya pikir, mencari ilmu itu hukumnya wajib, tak ada sunatnya. Coba, mana ada hadits yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu sunat? Hehehe.

Sabda nabi, "Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan". Juga diperintahkan sejak lahir hingga akhir hayat, "Mencari ilmu itu dari buaian hingga liang lahat". Rasulullah juga memerintahkan tuntutlah ilmu walau ke negeri China. Karena pada waktu itu peradaban Sungai Kuning di Tiongkok sedang masa jaya-jayanya.

Dengan begitu Rasulullah memberi isyarat bahwa ia tak alergi dengan menyuruh umat Islam agar mencari ilmu di pelosok negeri manapun.

Dalam konteks kekinian, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berpusat di Eropa dan Amerika, maka umat Islam hendaknya "mengaji" dan belajar ke Barat, kemudian kembali lagi untuk memberi manfaat bagi umat.

Oh ya, pernah baca kan kalau umat Islam sepeninggal Rasulullah dan empat khalifah kemudian mencapai kejayaannya? Malahan oleh kalangan sejarawan pada waktu itu dikenal sebagai peradaban Islam.

Apa rahasianya? Khalifah dengan dibantu para ilmuwannya bahu-bahu menerjemahkan dan mendorong pembaruan ilmu dan teknologi dari peradaban yang telah lewat.

Tak cuma itu, para ilmuwan muslim membuat terobosan dan penemuan baru yang kreatif pada zamannya.

Maka hadirlah kemudian sejumlah ilmuwan muslim yang tak lekang oleh waktu. Sebutlah misalnya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Jabir Al Hayyan, Al Khawarizmi, dan lain-lain yang membawa Islam pada panggung intelektual peradaban Islam.

Sekarang, hal itu tinggal romantisme sejarah belaka. Peradaban Islam hanya tinggal kenangan.

Namun tentu saja kita tak boleh pesimis. KH. Ahmad Dahlan, sang founding father Muhammadiyah telah memberikan teladan. Berangkat dari pembacaan realitas dan visi yang jauh ke depan, ia hadir dengan kreativitas menerobos zaman. Meski di awal-awal pendirian Muhammadiyah, Kiai Dahlan mendapat banyak pertentangan.

Muhammadiyah kemudian menjadi organisasi yang sedang berkiprah di seratus tahun kedua. Kiai Dahlan adalah sosok pencari ilmu yang tak sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri, sedapat mungkin ia harus bisa bermanfaat bagi umat.