Lakukanlah 6 Hal Ini Agar Toilet Training Lancar

Notification

×

Iklan

Iklan

Lakukanlah 6 Hal Ini Agar Toilet Training Lancar

Sabtu, 26 Juni 2021 | 13:32 WIB Last Updated 2021-06-26T06:32:39Z

Penulis Nurul Fitri, Ibu dua anak, tinggal di Bandung.

Memiliki anak yang mandiri tentu harapan semua orang tua. Kemandirian anak berbeda setiap fase kehidupannya. Salah satu kemandirian anak saat usia 2 tahunan yaitu toilet training.

Toilet training selain mengajarkan kemandirian juga turut serta menjaga kestabilan keuangan keluarga dengan tidak harus membeli diapers. Memang, terutama pospak (popok sekali pakai) menjadi persoalan dilematis bagi emak-emak.

Tidak pakai diapers berarti cucian menumpuk dan ompol anak akan berceceran di lantai. Pakai diapers berarti siap mengeluarkan uang untuk sesuatu yang akan dibuang.

Nah, bagi Bunda yang akan melakukan toilet training bagi bocil, berikut 6 tips yang dapat dilakukan:

1. Siapkan mental orang tua


Menyiapkan mental bagi orang tua sebelum melalukan toilet training adalah yang paling utama. Toilet training bukan perkara mudah, Bun! Akan banyak drama-drama yang singgah pada saat prosesnya, terutama di awal.

Pada awal toilet training anak masih pipis di lantai dan kasur ketika tidur siang/malam. Jadi, mental Bunda harus sudah siap untuk lelah mengepel lantai, mencuci seprai, dan menjemur kasur. Dan tak kalang penting: bersabarlah! Sebab, untuk mempertahan kesabaran juga butuh mental yang kuat.

2. Sounding


Setelah mental Bunda siap, sounding menjadi hal utama dilakukan sebelum Bunda memberlakukan toilet training pada si bocil. Sekitar sebulan atau paling cepat 2 mingguan sebelum toilet training.

Pun Bunda sudah harus memberitahu anak bahwa dia akan menjalani aktivitas tanpa diapers. Dalam proses sounding ini juga tidak bisa asal. Beritahu anak alasan logis kenapa harus beraktivitas tanpa diapers, kenapa jika mau pipis atau pup harus di kamar mandi, dan lain sebagainya.

Tolong, Bun, instruksinya tak mengintimidasi, ya. Misalnya, "Nak, nanti ketika sudah 2 tahun sudah tidak pakai diapers, ya. Bunda minta tolong nanti kalau mau pipis bilang ke ayah/bunda dan pipisnya di kamar mandi."

Silahkan Bunda dapat mengkreasikan kalimat sebaik mungkin agar misi men-sounding berhasil. Ketika latihan akan dimulai, Ayah/Bunda juga dapat meminta tolong anak bekerja sama dengan berkata, "Bunda minta tolong untuk menjaga celana tetap kering."

Atau, "Bunda minta tolong lantainya tetap kering, ya. Karena kalau pipis di lantai dan lantai nya basah, nanti licin." Bangunlah komunikasi sebaik mungkin agar proses toilet training saling menggembirakan dan dalam suasana santai.

 3. Konsisten


Pada dasarnya toilet training adalah membentuk sebuah kebiasaan, sehingga konsistensi sangat diperlukan. Jika sekali saja ayah atau bunda menghentikan latihannya, maka itu akan menggagalkan usaha yang sudah dilakukan sebelumnya dan harus mengulang dari awal.

Misalnya, karena bunda bekerja dan anak dititip ke orangtua atau pengasuh, maka anak kembali dipakaikan diapers. Itu salah satu yang dapat menggagalkan latihan ini. Jadi, sangat penting pendampingan ayah dan bunda.

Nah, ada sedikit tips bagi Bunda yang bekerja dan ingin melakukan toilet training, yaitu lakukanlah di waktu long weekend atau ambilah cuti. Dengan begitu, Bunda tetap bisa memantau sekaligus menemani buah hati dalam proses toilet training.

4. Lakukan secara bertahap


Toilet training bukan sulap yang dapat terjadi secara instan, tapi ada beberapa proses yang harus dilalui. Pada proses awal anak masih mengompol. Itu wajar, karena anak masih belajar mengendalikan rasa ingin pipis.

Jika anak sudah melewati proses awal, anak akan masuk pada fase tidak nyaman jika celananya basah. Setelah itu, untuk menyamankan dirinya anak akan mulai terbiasa untuk mengatakan ingin pipis ke ayah dan bunda.

Untuk melewati fase-fase tersebut, Ayah dan Bunda dapat melakukannya secara bertahap, misalnya:  pertama, buat anak nyaman terlebih dahulu untuk pipis di kamar mandi terutama di kloset. Tahap kedua, lakukan toilet training pada siang hari terlebih dulu. Tahap ketiga, lakukan toilet training pada malam hari.

5. Susun Kebiasaan Baru


Kebiasaan baru pada saat toilet training, yaitu setiap setengah jam atau satu jam sekali Ayah dan Bunda bertanya kepada anak apakah ingin pipis. Jika malam hari setelah minum susu biasanya anak akan langsung tidur. Maka, ketika toilet training, biasakan anak tidur setelah setengah jam atau satu jam minum susu.

6. Beri Pujian


Setiap kali anak menyelesaikan misi untuk pipis di kamar mandi, pujilah sebagai bentuk apresiasi atas usahanya. Bunda dapat memuji usahanya bukan hasilnya. Misalnya Bunda mengatakan, "Terima kasih kakak sudah pipis di kamar mandi."

Bisa juga, "Terima kasih kakak sudah menjaga celana dan lantai untuk tetap kering." Pujian-pujian tersebut akan memotivasi anak untuk konsisten melakukan toilet training sehingga kebiasaan baru pipis di kamar mandi akan terbentuk.

Itulah 6 tips bagi Bunda yang akan melakukan toilet training. Ingat, ya Bunda,  sekali Bunda memilih toilet training, maka tidak ada jalan untuk kembali. Selamat ber-toilet training!