The Loss of Adab

Notification

×

Iklan

Iklan

The Loss of Adab

Rabu, 23 Juni 2021 | 10:04 WIB Last Updated 2021-06-23T03:18:54Z


Penulis
Prof Luthfi Assyaukanie


Salah satu penyakit di Facebook adalah begitu mudahnya orang merasa percaya diri dan merasa punya otoritas pengetahuan. Dengan modal baca satu-dua artikel, dia sudah merasa menjadi pakar. Baru belajar dasar-dasar Logika di sebuah blog, langsung menuduh lawan bicaranya melakukan "fallacy". Biar kelihatan keren dan pintar.


Kepercayaan diri yang tinggi membuatnya malas berkaca disiplin apa yang dia geluti dan enggan memeriksa disiplin apa yang digeluti lawan diskusinya. Seorang penjaga toko HP tamatan sebuah SMK di Wonogiri menganjurkan saya belajar Islam dan bahasa Arab, tanpa perasaan berdosa sama sekali. Seorang tukang sulap dengan percaya diri menulis tentang politik dan demokrasi, berharap bisa menyihir pembacanya dengan kata-kata magisnya. Mungkin dia kehabisan materi sulap.


Penyakit itu menjadi-jadi jika sang Facebooker selalu dikasih jempol oleh para pembacanya dan diberikan berbagai pujian. Merasa hebat di media sosial itu sebuah gejala psikologi yang patut diteliti. Para psikiater mungkin perlu menyiapkan obat dengan racikan khusus buat pasien jenis baru ini.


Di era ketika informasi dan follower begitu mudah didapat, orang cepat merasa hebat. Tak perlu gelar PhD, tak perlu kuliah susah-susah. Semakin banyak yang memberikannya sorak, semakin dia merasa punya otoritas, meskipun disiplin yang digelutinya, tak ada sangkut-pautnya dengan apa yang ia tulis.


Tom Nichols, profesor asal Harvard, menyebut gejala itu sebagai "matinya kepakaran." Para pegiat Medsos tiba-tiba merasa hebat dan sah berbicara tentang apa saja. Guru saya, Prof. Naquib al-Attas, menyebutnya "the loss of adab," hilangnya kepantasan. Orang tak tahu lagi apakah pantas berbicara tentang suatu topik yang tak dikuasainya.


Saya kira, guru saya benar. Yang hilang bukan kepakaran, tapi adab. 


Sumber: Fanspage facebook Prof Luthfi Assyaukanie