Dua Polusi Malam
Editor Konten
Minggu, Juli 18, 2021, 14:00 WIB
Last Updated 2021-08-29T23:53:46Z
Kolom

Dua Polusi Malam

Advertisement

Oleh Prof Lutfhi Assyaukanie


Sebagai penikmat langit malam, saya selalu terganggu dua hal setiap kali mengamati bintang-gemintang. Pertama, polusi cahaya. Kedua, polusi suara. Waktu favorit saya menikmati langit adalah sekitar jam 3-4 pagi. Ini adalah waktu yang paling pas untuk melihat Jupiter dan benda-benda malam di langit selatan.


Kita memang tak bisa menghindar dari polusi cahaya. Apalagi jika tinggal di tengah kota, cahaya selalu berpendar sepanjang malam. Yang bisa kita lakukan adalah mematikan seluruh cahaya di halaman rumah kita. Sedikit membantu mengurangi gangguan. Cukup membantu jika Anda berada di teras atas, yang ketinggiannya melebihi rumah-rumah lain.


Polusi kedua lebih mengganggu, karena merusak keheningan yang harusnya kita nikmati. Suara-suara toa dari delapan penjuru angin mulai bersahutan memasuki pukul 3 pagi. Subuh memang masih lama, tapi manusia-manusia tak tahu diri itu senang mengganggu ketenangan orang, baik yang sedang tidur, maupun yang ingin menikmati syahdunya pagi.


Kota memang bukan tempat yang cocok untuk menikmati langit malam. Jika ingin benar-benar menyaksikan pagelaran jagat raya, kita harus mencari tempat terpencil, di mana tak ada setitik cahayapun bisa tembus. Di Indonesia, Anda harus pergi ke tengah hutan atau pegunungan, untuk mendapatkannya.


Saya pernah berada di tempat terpencil seperti itu. Di tengah kesunyian pekat antara Melbourne dan Philips Island. Sekitar jam 2 pagi, saya hentikan mobil, saya matikan semua lampu. Beruntung, langit cerah dan Bulan sedang berada di balik Bumi. Itu adalah malam yang tak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.


Pertama kali mendongak ke atas, pergelangan Bima Sakti yang mirip rumah lebah, seperti berada di atas kepala kita. Begitu dekat. Pada mulanya agak terteror. Ngeri. Tapi, lama-lama, bagaikan simfoni malam yang maha indah. Konstalasi dan beragam bintang seperti berkejaran. Sepanjang horison malam, hanya benda-benda angkasa yang selama ini tersembunyi yang kita lihat.


Sebagian besar manusia tak punya kesempatan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. Jika Anda pernah pergi ke planetarium, pengalaman menyaksikan langsung 1000 kali lebih menggetarkan. Tak tergambarkan. Tak terlukiskan.

X
X