Sebaik-Baik Teman Duduk Itu Gadget dan Kopi, Bukan Buku!

Notification

×

Iklan

Iklan

Sebaik-Baik Teman Duduk Itu Gadget dan Kopi, Bukan Buku!

Kamis, 01 Juli 2021 | 12:29 WIB Last Updated 2021-07-01T05:29:41Z

Penulis Anggi Setyo, Mamah muda dengan dua anak

Siapapun yang pernah nyantri, khususnya di pesantren modern, pasti tidak asing dengan pepatah Arab (mahfudzat) di atas. Selain itu, tentu masih ada pepatah Arab populer lainnya, seperti: Man jadda wajada dan Man shabara dzafira, yang menginspirasi Ahmad Fuadi untuk menulis novel trilogi Negeri 5 Menara yang fenomenal.

Ya, di pondok modern, mata pelajaran mahfudzat bisa dipastikan ada di setiap jenjang kelas, dari kelas satu (setara kelas 1 SMP) hingga kelas lima (Kelas 2 SMA). Dulu, ketika saya mondok, saya termasuk santri yang paling suka dengan pelajaran mahfudzat. Khairu jalisin fi kulli zamanin kitabun (mahfudzat). Kenapa?

Selain penyampaian materinya menarik dan bisa memotivasi, pengajarnya pun bisa dibilang sangat menjiwai dan berapi-api saat mengajarkannya. Saya masih mengingat dengan jelas teriakan sang ustad yang diikuti para santri. Hingga kini, pepatah-pepatah Arab tersebut masih berkelindan di pikiran saya.

Salah satu pepatah Arab yang masing terngiang di kepala adalah: Sebaik-baik teman duduk adalah buku. Pepatah tersebut, tak lain memberi tahu kita agar senantiasa menjadikan buku sebagai sahabat. Ketika kamu bersantai dari aktivitas apapun, bacalah buku. Ketika kamu hendak tidur, bacalah buku. Ke mana pun kamu pergi, bawalah buku untuk kamu baca. Begitu terang sang ustad.

Jika diterjemahkan secara harfiyah: Khairu jalisin fi kulli zamanin kitabun, berarti ‘sebaik-baik teman duduk adalah buku’. Buku sebagai jendela pengetahuan yang senantiasa memberikanmu wawasan baru layaklah dijadikan sebagai teman duduk, bahkan teman setia di mana pun kamu berada. Terutama bagi kamu para genmu (generasi muda) yang masih menjadi pelajar/santri ataupun mahasiswa.

Adagium Arab tersebut tidak hanya berlaku bagi mereka yang sedang belajar saja. Saya meyakini bahwa ungkapan dari negeri padang pasir itu berlaku untuk semua orang dari segala usia. Sebagaimana pepatah lain: Uthlubul ‘ilma minal mahdi ila lahdi, ‘tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahad’.

Saya masih ingat betul, santri-santri yang sedang di luar jam pelajaran, atau ketika usai salat Ashar di masjid, mereka sengaja tidak langsung pulang ke asrama/pondokan. Mereka menyegaja berdiam diri di masjid untuk membaca buku: buku pelajaran, novel, mushaf, dan aktivitas membaca lainnya.

Kegiatan santri semacam itu bisa dikatakan sebagai bentuk kesadaran mereka dalam mengamalkan khairu jalisin fi kulli zamanin kitabun. Dan kegiatan santri tersebut sungguh merupakan suatu pemandangan paripurna yang begitu saya rindukan.

Gawai si Teman Setia



Hari ini, saya sudah jarang melihat orang yang membaca buku di saat mengisi waktu luangnya. Tentu saja berbeda jika di toko buku atau di perpustakaan. Tetapi di tempat lain, misalnya ketika sedang berada di kereta api, di bis, di warung kopi, atau ketika sedang antre di rumah sakit.

Saya kembali teringat, saya pertama kali memiliki ponsel ketika saya duduk di kelas lima (jika di sekolah umum, kelas 2 SMA). Ponsel yang pertama kali saya miliki adalah ponsel N*kia cinitnit (ponsel tipe polifonik) yang font SMS-nya bold.

Senangnya bukan main, karena saya bisa SMS-an dengan si dia yang juga punya ponsel. Begitupun setelah keluar sekolah, saat ponsel baru banyak dirilis, ponsel saya pun berganti-ganti merk dan tipe. Bosan ini ganti itu, dan begitu seterusnya tanpa puas. Kamu, juga be/gitu ndak?

Posisi buku di kehidupanmu dan saya kini mungkin sudah tergantikan oleh gawai. Apalagi setelah hadir sistem android seperti saat ini. Semua informasi yang diperlukan hadir di genggaman, mau membaca buku, kini tinggal klak-klik saja, mau belanja, ya tinggal klik si tante sopi yang berwarna oranye itu. Mau transfer uang? ya tinggal klik B*A saja.

Saya jadi bertanya, mungkinkan pepatah ‘sebaik-baik teman duduk adalah buku’ masih relevan hari ini? Jika kita memerhatikan perilaku orang-orang bahkan diri kita sendiri, gawai menjadi barang yang pasti ada di manapun kita berada.

Ketika sedang boker di kamar mandi pun, seenggaknya kamu memanfaatkan momen itu untuk main COC atau Mobile Legend, bukan? Atau stalking akun mantan? Ah, ngaku saja lah Toh, saya pun tak jarang sepert itu, kok.

Gawai memang memberikan fitur dan fasilitas yang lebih lengkap tinimbang buku. Gawai bisa memberikanmu berbagai macam hal yang kamu butuhkan: akses informasi, akses keuangan dan bisnis, hingga akses film yang unfaedah. Sehingga sebagian kita berpikir bahwa kita tidak perlu lagi membeli dan membawa buku jika ingin membaca.

Cukup bawa gawai saja dan buka aplikasi mesin pencari. Lagian di gawai kita bisa membaca buku juga. Namun, kita sadar enggak? Lama-kelamaan, kita seperti dijajah oleh perilaku diri kita sendiri yang seperti kecanduan gawai.

Sehingga, misalnya salatnya Kang Ncep yang rajin salat itu, kini tak lagi khusyuk karena bunyi notifikasi “soppi” dari gawainya. Gawainya yang ketika salat selalu diletakkan di atas sejadah. Diletakkan di sana mungkin biar pas ada notifikasi, dia bisa sedikit mengintip notifikasi orderan baru atau notifikasi pembeli yang batal bayar. Hehe.

Ya, begitulah! Kemajuan teknologi rupanya telah mengubah peradaban kita. Sehingga tidak menutup kemungkinan pepatah ‘sebaik-baik teman duduk adalah buku’, kini menjadi ‘sebaik-baik teman duduk adalah gadget dan secangkir kopi’. Srupuuut.