Terorisme, Kutu Busuk dalam Keindonesiaan
Sukron Abdilah
Senin, Agustus 30, 2021, 09:30 WIB
Last Updated 2021-08-30T10:10:33Z
Agama

Terorisme, Kutu Busuk dalam Keindonesiaan

Advertisement

Aksi teror di Indonesia, notabene lahir dari gerakan ideologis komunitas keagamaan. Kenapa saya menyebut mereka sebagai komunitas keagamaan? Sebab, jumlahnya tidak akan mencapai lima persen dari umat Islam di Indonesia. Namun, jumlah yang sedikit kalau dibiarkan berkembang bakal menjadi cucuk atau duri yang membahayakan eksistensi Islam di negeri ini. 

Silakan Anda renungkan masak-masak, sebagai penganut agama Islam, pantaskah melakukan aksi pengeboman? Apalagi negeri kita dipenuhi diversitas serta majemuk. Boleh jadi hati kecil anda berbisik: “saya mengutuk aksi teror ini.” Kalau boleh melakukan penelitian di seluruh Indonesia, secara kuantitatif jumlah yang setuju dan tidak setuju dengan praktik teror ini pasti sangat timpang.

Seandainya Nashrudin Khaja Syarif ada ditengah-tengah kita, dia pasti menertawakan peneror “atas nama” agama itu. Si Kabayan Timur Tengah ini akan terbahak-bahak dengan kegilaan yang dilakukan saudaranya. Nyawa yang sedemikian berharga dibikin tidak berharga dengan menghancurkan harapan orang banyak. 

Coba bayangkan oleh Anda. Ketika teror ini dibiarkan, kondisi perekonomian bangsa akan melorot. Banyak warga yang tidak merasa aman. Membuat orang lain tidak nyaman dan aman adalah dosa besar.

Islam, kalau dipahami seperti ini bukan menjadi agama pembebasan. Namun, agama yang mencekik optimisme orang disekitarnya. Kredo “rahmatan lil alamin” juga hanya menjadi penghias di lembar mushaf Al-Quran tanpa memiliki sentrifugalisme gerakan. 

Fungsi Al-Quran juga tidak menjadi penyampai keselamatan. Ia sedemikian dikotori dengan laku lampah yang biadab dan mengkhianati kemanusiaan dan keilahiyan. Agama, seperti diungkapkan M. Dawam Rahardjo, cendekiawan muslim yang pluralis, adalah kado berharga sebagai hadiah dari Tuhan untuk membebaskan manusia. Kalau dari rahim Islam, lahir perilaku cacat (baca: aksi teror) dimanakah letak pembebasannya?

Katakan “Tidak”!

Terorisme tak habis saya pikir berulang-ulang. Secara pribadi saya membenci praktik teror semacam ini. Pun begitu teror yang lebih rendah dari ini, seperti mencaci-maki, fasis, rasis, dan mendiskriminasi “the other”.

Terorisme adalah semacam pemikiran yang menjadi praktik error seorang manusia. Seperti halnya orang sakit jiwa atau gila, yang menyebrang jalan tanpa lihat kiri-kanan. Nyawanya dan nyawa orang lain diabaikan karena otaknya sudah rusak! Ini persis seperti yang diistilahkan Erich From sebagai manusia yang mengidap kebencian pada semangat hidup, nekrofilia. Sebuah gejala psikologis yang merasa puas ketika orang lain merasakan penderitaan.

Tak peduli di TKP ada warga tak berdosa, bom diledakkan juga. Kejadian ini adalah pengkhianatan atas nama kemanusiaan. Dan, bagi si pelaku tentunya tak pantas digolongkan sebagai seorang manusia. Wong manusia itu akan menjaga manusia lain dari ancaman kekerasan. Ini berbalik. Manusia dijadikan objek pelampiasan keputusasaannya.

Saya bukan intelejen yang pandai mengungkap data-data rahasia. Saya juga bukan presiden yang sekarang sedang memutar pikirannya untuk menyelesaikan soal “kutu busuk” dalam keindonesiaan kita hari ini. Saya adalah rakyat biasa, yang hanya dapat mengutuk aksi teroris ini. Saya hanya bisa mengecam. 

Paling banter juga menjaga agar di tubuh organisasi saya tidak disambangi orang-orang semacam mereka. Hati nurani-nya mati. Tidak merasakan derita keluarga korban yang menjadi aksi kebiadabannya.

Generasi peneror ialah generasi yang gila dan putus asa. Kenapa saya mengatakan gila dan putus asa? Sebab, hanya orang gila saja yang menyia-nyiakan nyawanya dan mengorbankan warga tak berdosa untuk sebuah tindakan putus asa.

Itulah keputusan hidup yang menyalahi optimisme. Buya Syafi’I Ma’arif menyebut orang seperti mereka (pengebom) sebagai orang yang hanya memegang ajaran “teologi putus asa”. Perang terhadap aksi teror ini adalah melahirkan kesadaran dalam diri warga, bahwa ideologi yang dapat menumbuhsuburkan mereka, harus mulai diredam dengan berbagai cara. Katakan tidak pada segala bentuk penafsiran rigid, kaku, hitam-putih, dan panatisme buta atas pesan-pesan keagamaan.

Menghadirkan potret kekejaman aksi teror dengan pengetengahan derita jiwa keluarga korban, bisa menjadi pembuka katup kesadaran warga: Aksi teror bom adalah praktik kegilaan manusia. “Ih…amit-amit kalau kita menjadi bagian dari mereka.” 

Itulah kesadaran yang akan lahir, seandainya korban bom adalah Ibu, ayah, kakak, dan adiknya sang pelaku korban. Bagaimana kalau korbannya adalah saudara anda sendiri atau anda sendiri? Saya jamin anda akan mengutuk terorisme dan segala bentuk penyimpangan keberagamaan ini. 
X
X