WFH Nggak Seindah Yang Dibayangkan, Lho!
Sukron Abdilah
Jumat, Agustus 06, 2021, 09:47 WIB
Last Updated 2021-08-29T23:47:52Z
Pendidikan

WFH Nggak Seindah Yang Dibayangkan, Lho!

Advertisement


Nurul Fitri
, Guru Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung

 

Tidak terasa corona sudah melewati ulang tahunnya yang pertama. Semua orang tentu berharap tidak ada ulang tahun untuk yang kedua dan seterusnya. Bayangkan, akan seperti apa perkembangan anak-anak jika corona terus bercokol, sementara Work From Home (WFH) masih terus berlanjut.

Saya tak pernah menyangka bakal menjalankan WFH selama 1 tahun atau sejak pertama kali corona hinggap di Indonesia, Maret 2020. Selama itu, sungguh tak sedikit drama yang telah dilalui. Maklum, saya punya 1 anak yang sedang lincah-lincahnya.

Pada awalnya, WFH sepertinya terasa menyenangkan karena dengan bekerja dari rumah berarti akan lebih banyak waktu luang untuk anak. Saya pun bersukacita sekaligus menyiapkan amunisi untuk WFH berupa peralatan yang dibutuhkan, terutama men-sounding anak .

Sounding anak perlu dilakukan agar anak tidak kaget dengan kebiasaan baru yang akan dialami selama WFH. Misalnya, mulai Senin ayah dan ibunya akan bekerja di rumah. Saya tekankan ke bocil jika kami sedang menggunakan gadget, itu artinya sedang bekerja.

Bagi kami, permasalahan gadget menjadi penting, karena di rumah terdapat aturan waktu penggunaan gadget. Kami telah menyepakati jika anak boleh bergadget ria hari sabtu, sehingga, kami, ketika pulang ke rumah setelah bekerja tidak memainkan gadget selama anak belum tidur.

Pada awalnya anak mengerti kalau ayah dan ibunya pegang gadget berarti sedang bekerja. Namun, lama-kelamaan anak mulai protes dengan kondisi tersebut. “Ibu jangan main HP terus, main aja sama Alka.” Bentuk lain protes anak, yaitu dia merebut gadget dari saya atau suami. Terkadang juga dia dengan sengaja mengganggu pekerjaan kami.

Seketika saya terkejut dengan pernyataan dan tingkahnya tersebut. Saya tidak menyadari ternyata sang anak merasa terabaikan dengan orangtuanya bekerja di rumah. Dan dari kalimat tersebut saya sadar ada dampak psikologis yang dirasakan anak, yaitu merasa tidak diperhatikan.

Seketika kebahagiaan menjalani WFH runtuh sudah. Dengan WFH, jelas saya selalu di rumah, tetapi untuk saat ini Work From Office (WFO) terasa jauh lebih baik. Setidaknya bocil tidak harus melihat ibunya bekerja dan ketika sedang bersama anak tidak dibarengi pekerjaan atau istilah kerennya quality time.

WFH juga mengubah tatanan kesepakatan yang sudah disepakati, salah satunya waktu pengguanaan gadget atau screen time. Akan sangat tidak berkeadilan jika orangtuanya selalu memegang gadget (walaupun dengan alasan bekerja), tapi anak tetap dengan jam screen time semula.

Jadi, mau tidak mau waktu screen time pun bertambah. Belum lagi ketika saya sedang melakukan virtual meeting: entah itu rapat sekolah atau mengajar melalui zoom, anak harus dikondisikan agar kegiatan tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Saya masih bergantung dengan gadget untuk mengalihkan anak ketika menunggu saya selesai meeting atau mengajar virtual. Atau, bahasa lainnya: saya kasih gadget pada anak saat saya bekerja. Dengan begitu, maka impian saya mengenalkan gadget sekadarnya ke anak tinggal kenangan.

Artinya, saya masih menyelesaikan gadget dengan gadget. Otomatis anak pun menjadi lebih akrab dengan gadget. Dia menjadi lebih sering meminta untuk menonton di hp. Dan ketika hp akan saya ambil (waktu menonton habis) terjadi perdebatan yang cukup alot karena anak tidak mau melepas gadget-nya. Belum lagi anak menjadi lebih sering mengalami tantrum.

Setelah WFH berjalan cukup lama, saya pun menjadi banyak belajar bagaimana mengelola kondisi di rumah agar anak tidak merasa terabaikan dengan pindahnya tempat kerja orangtua ke rumah.

Saya dan suami bersepakat untuk bergantian menjaga anak. Misalnya, pagi-dzuhur, saya jaga anak, sementara suami mengerjakan pekerjaan kantornya di kamar dan sebaliknya. Tentu pengecualian ketika saya ada jam mengajar pagi, maka saya dan suami akan bolak- balik bergantian menemani anak bermain.

Selain itu, persiapan mengajar pun saya pindahkan ke malam ketika anak sudah tidur. Seperti pembuatan video pembelajaran, pembuatan soal, dan lain-lain. Sedangkan siang saya mengajar melalui aplikasi WAG atau aplikasi e-learning lainnya yang dapat dilakukan sambil bermain dengan anak.

Kami bersepakat untuk tetap menemani anak bermain tanpa gadget di tengah-tengah jadwal pekerjaan kami yang padat . Hal tersebut berdasarkan tujuan awal yaitu menemani anak bermain agar tidak merasa terabaikan dan screen time sewajarnya.

Selain mengatur siapa yang menemani anak bermain, saya juga memberi mainan baru sebagai hadiah atas pengorbanan anak karena sudah mau turut serta dengan kerepotan pekerjaan orangtuanya.

Barangkali itulah sebagian konsekuensi bagi emak-emak yang bekerja, tertutama di tengah pandemi yang mengharuskan sebagian besar pekerja harus menjalankan WFH. Saya berharap pada ulang tahun corona yang pertama ini, ia benar-benar tidak panjang umur.

Teruntuk para Bunda di mana pun berada, yang memiliki kisah sama, sesibuk apapun kita bekerja, ingatlah anak yang utama!

X
X