Sajak: Kanuraga Nada Gemerlik Kecapi Suling
Sukron Abdilah
Sabtu, September 04, 2021, 06:24 WIB
Last Updated 2021-09-03T23:24:32Z
Sastra

Sajak: Kanuraga Nada Gemerlik Kecapi Suling

Advertisement

SUKRON ABDILAH,
 lahir di Garut 22 Maret 1982. Sekarang ia aktif mengelola bincangkata.com, sebagai etalase pemikiran dan gagasan dari beragam kalangan. Ia adalah alumni Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung, lulus tahun 2007. 

1 - Kanuraga 


Tubuhku mendekap kegelapan 
ruh tinggalkan cahaya kerumunan
tuk mengangkasa 
temui manusia beraneka ragam 

Ruang pengap kamar sesaki detak jantung
hingga berhenti hanya tuk keluarkan diri 
dari hari-hari yang tak bergantung

melayang aku hampir terjatuh
dari lelangitan ruh
yang tinggi dan mulai meninggi
tinggalkan kerangkeng tubuh

Dingin dan mulai tak berdaya 
aku meninggalkan penjara rasa
dari jasad yang mulai terkelupas 
lepas mengangkasa
dan malas kembali
temui Jasad
 

2 - Kecapi Suling


Getar senar berdawai menari meliuk-liuk 
hinggapi telinga kiri-kanan. 

Gerlik alun nada tulat-tulit terobosi ulu pilu qalb 
yang undang bulu romaku bergidig. 

Ketakutan aku setengah mati, atau malah berjingkrak-jingkrak 
aku melenggok kangkung kala angin hantarkan suara kecapi suling 
dari dalam gubuk rumah tua di sebelah sungai Cimanuk. 

Tetabuhan dari arah Barat, aku tutupi dengan kain batik Garutan
kusumpali dengan saputangan merah jambu kelabu 
pemberian nenek moyang Ki Sunda. 

Seperti kecapi dan suling yang saat ini 
aku tak lagi dengar dan nikmati 
aku menjadi manusia Sunda yang kehilangan jati diri. 

Bergeol, bergitek, dan bergoyang 
bukan dengan apa yang diakarkan kepada Ki Sunda. 

Malahan pada dunia yang aku pun tak kuasa 
menahan rasa kantuk akibat semburan mantranya. 

Tapi, kecapi suling yang dipajang di dinding rumah uwak 
ingatkan aku pada pengembaraan sang nenek moyang Ki Sunda 
yang upayakan melestarikan pohon-pohonan dan awi tamiang. 

Dua karya bangsa itu pun -- suling dan kecapi -- kini teronggok 
di dinding menjadi hiasan mata, tidak lagi menjadi pelipur lara 
di kala aku berduka. 

Dinding di rumah almarhum Uwak Elim 
sekarang hanya dihiasi kecapi dan suling yang menunggu anak cucunya 
memetik dan meniupnya seindah dan seasyik ma'syuk mungkin, 
hingga sang uwak berpepatah-berpepitih: "jangan sampai Ki Malaya 
mencurinya dari tangan kita, seperti nasib alat musik kembarannya, 
angklung dari Tanah Sunda, Jawa Barat".
X
X